<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4972090938292103728</id><updated>2011-11-28T19:10:56.221-08:00</updated><category term='sastra'/><title type='text'>-Catatan Perjalanan-</title><subtitle type='html'>berdiam adalah salah satu cara hatimu mengunjungi hatiku.
namun kekasihku, kemarilah dengan kaki dan tanganmu
sebab cinta selalu meminta kemanunggalan dari kemenduaannya</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://kekalkumatiku.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4972090938292103728/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kekalkumatiku.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>ahmadkekalhamdani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04993144587058559417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_Q-VWtJ0Gmno/TSZxPkTq6DI/AAAAAAAAAM8/Ed1HG9mHb38/S220/potret%2Bdiri.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>8</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4972090938292103728.post-1826740798059707164</id><published>2011-11-25T12:07:00.000-08:00</published><updated>2011-11-25T12:09:10.700-08:00</updated><title type='text'>Masa Depan “Kekinian” Kita</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Esai&lt;/em&gt; Ahmad Kekal Hamdani&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Membincangkan  “pemuda” dalam realitas gerak sastra (puisi) kita kini, masih  dikesankan sebagai bentuk pengkotakan dari sosio-kultur sastra kita.   Antara “golongan tua” dan “golongan muda” yang memiliki sisi tegang  tersendiri, unik, dan tidak jarang mencuatkan perdebatan-perdebatan  panjang soal senioritas, hegemoni kaum tua, etika antar generasi, dan  bahkan soal sentiment antar kelompok-sosial (komunitas) penyair antar  daerah.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Hal yang demikian tentu memiliki akar tradisi yang  cukup panjang. Pola “angkatan” yang pernah terbangun di masa-masa awal  perpuisian modern Indonesia dalam intensitas tertentu juga memiliki  andil memelihara garis demarkasi antarperiode dari kelahiran  penyair-penyair muda pada tiap tahunnya. Meski yang demikian, mungkin  masih hanya terpendam dalam batin “golongan tua” sebagai artefak sejarah  perpuisian kita –yang dalam tumbuh kembangnya berada dalam pergolakan  politik tiga generasi: orde lama, orde baru, dan mula reformasi.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kini,  di antara perkembangan sosial-budaya yang dihantui globalisasi,  modernisasi, serta derasnya arus informasi dan komunikasi (multi)media.  Arti kata “muda” barangkali telah kehilangan kharismanya. Demokratisasi  media yang menemukan momennya dalam gelombang kapitalistik adalah  penyumbang terbesar dalam penghancuran sekat “tua” dan “muda” dalam  rekayasa-sosial sastra (puisi) kita. Sebut saja media seperti &lt;em&gt;facebook&lt;/em&gt;,&lt;em&gt; twitter&lt;/em&gt;, blog, arus produksi dan persaingan penerbit, serta begitu banyaknya festival-festival sastra digelar tiap tahunnya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dalam  tahun 2011 saja, telah terlaksana misalnya; Pertemuan Penyair Nusantara  (PPN V) di Palembang dan akan berlangsung Oktober ini Temu Sastrawan  Indonesia (TSI IV) di Ternate  serta Ubud Writer &amp;amp; Readers Festival  (UWRF 2011) di Bali. Itu hanya segelintir dari begitu banyaknya gelaran  sastra kita, mulai dari yang berskala lokal, nasional, bahkan  internasional. Dari yang sekedar perayaan hingga usaha-usaha perumusan  dan tindakan.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Beberapa kegiatan sastra yang tumbuh dengan semangat dari dan untuk “pemuda” di antaranya seperti; &lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt;, Temu Penyair Muda Jawa Barat-Bali (TPMJBB) 2005, di Bandung. &lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;,  Forum Penyair Muda 4 Kota pada 2-3 Februari 2007, di Taman Budaya  Yogyakarta yang diikuti beberapa penyair muda dari Yogyakarta, Bandung,  Bali dan Padang. &lt;em&gt;Ketiga&lt;/em&gt;, Temu Penyair Lima Kota (TPLK), 27-29 April 2008, di Payakumbuh dengan ditambah beberapa penyair dari Lampung.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tiga  kegiatan temu penyair (sastrawan) di atas bukan tanpa pergolakan,  beberapa persoalan mencuat seperti miskomunikasi, perbedaan sikap serta  intoleransi dalam proses komunikasi juga terjadi. Ini tentu merupakan  proses dialektika yang perlu diamini dalam proses mencari kesebangunan  serta sikap bersama “kaum muda” dalam membawa nasib sastra (puisi) ke  depan. Dan tiga kegiatan di atas hanyalah gambaran kecil dari banyaknya  kegiatan sastra yang dipelopori kaum muda di daerah-daerah. Baik lewat  intensitas berproses dalam internal komunitas maupun  dialektika-komunikatif antar komunitas satu dengan yang lainnya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Banyak  dari problematika “kaum muda” dalam perbincangan sastra kita adalah  semacam usaha guna menjebol sekat-sekat geografis dan melakukan  reka-garis komunikasi budaya untuk menciptakan iklim yang lebih merdeka.  Seperti misalnya penggugatan atas tradisi senioritas, melepas belenggu  diskriminasi atas pelaku budaya di daerah-daerah, membaca ulang dan  melakukan bentuk penyadaran bersama untuk bangkit dan mengatasi kekinian  mereka, politisasi media dan hegemoni kelompok tertentu, serta  perbincangan lainnya di seputar semangat muda yang progresif.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dalam  prosesnya, tentu kesilang-sengkarutan terjadi, bahkan sampai dalam  tataran caci-maki. Hal demikian adalah lumrah dalam batasan tertentu,  dan bila kita mau berpikir bijak, kegiatan dan semangat di atas mau  tidak mau kita sadari memberikan banyak manfaat dalam memberi dan  merekonstruksi iklim budaya kepenyairan kita selalu dalam posisi yang  dinamis. Setidaknya, sekat-sekat itu telah menjadi lebih cair dan kita  bisa lebih mempersiapkan diri menyikapi tantangan selanjutnya untuk  kekinian kita. Dengan problematika baru, dengan strategi dan usaha-usaha  yang baru.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pertanyaan yang muncul kemudian, masih  relevankah kegiatan-kegiatan seperti di atas bagi tumbuh-kembang sastra  (puisi) Indonesia kini dan ke depan? Benarkah “kaum muda” masih ada  dalam realitas sastra dan dunia kepenyairan kita? Bila “kaum muda” dalam  sastra Indonesia benar-benar ada –atau setidaknya mesti Ada, sejauh  apakah peranan itu mereka mainkan di tengah arus pragmatisme yang kian  melebar? Yah, di saat sastra hanya merupakan laku romantisisme atas  mitos-mitos “kepahlawan” dan “superioritas” kepenyairan. Dengan segala  kausalitasnya yang menjanjikan “nama besar” dan benih-benih hegemonik  atas masyarakat sastra. Ketika banyak pemuda bercita-cita menjadi  penyair dan mengimpikan “peperangan” hanya untuk membuktikan dirinya  bukan “anak kecil” dan patut pula dihargai secara eksistensial! Bila  hanya demikian, tentu kita hanya memperkeruh lumpur hisap yang telah  menelan habis cita-cita luhur kesastraan kita.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Bagi saya  pribadi, peranan “kaum muda” adalah keniscayaan. Tanpa tendensi untuk  mengkotakkan antara golongan tua dan muda, pengidentifikasian identitas  serta pengafirmasian “kemudaan” memiliki fungsinya sebagai wilayah  penentu untuk menarik garis fungsional antar generasi. Baik golongan tua  maupun muda galibnya memiliki peranan masing-masing yang urgen dan  saling bersinambung. Itu sebabnya, perbincangan keduanya tidak bisa  lepas satu sama lain.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Memperbincangkan peranan “kaum muda”  bukan berarti hanya memperdebatkan kekinian dan identitas pemuda itu  sendiri, tetapi juga merupakan usaha menatap dan merekonstruksi arah  masa depan. Konsepsi perihal “pemuda” pun adalah sesuatu yang cair, yang  memiliki mungkin untuk direkonstruksi kembali lepas dari sekedar  kategori umur dan periodisasi, akan tetapi juga dari spirit dan sikap  mengatasi akan kekinian dan masa depannya! Semoga dalam dekat yang  demikian bisa kita gagas kembali, tak hanya untuk menjalin silaturrahim  dan guyub persaudaraan akan tetapi merumuskan kembali peranannya dari  hanya sekedar memperdebatkan posisi dan “kebebasan” menyatakan diri,  tetapi juga pilihan untuk hadir di tengah-tengah pergolakan sosialnya  yang terus berubah.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Regenarasi akan terus berlanjut dengan  segala problematikanya yang khas di tiap zamannya. Apa yang telah  diusahakan dan dibangun oleh kaum muda terdahulu mesti dilanjutkan  –meski dengan ekspresinya yang berbeda. Barangkali kita bisa memulai  dengan sekedar bisik-bisik, mengingat hal-hal kecil di sekitar dan  sedikit mengendorkan ketegangan. Bila usaha penghancuran-penghancuran  belenggu itu telah dilakukan di silam waktu, kini kita bisa memulai  mengisi “kebebasan” itu dengan rumusan dan konsepsi progresif kaum muda  sendiri. Agar kita tidak menjadi terlampau cepat tumpul dan mandul! [.]&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Yogyakarta, 2011&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4972090938292103728-1826740798059707164?l=kekalkumatiku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kekalkumatiku.blogspot.com/feeds/1826740798059707164/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4972090938292103728&amp;postID=1826740798059707164' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4972090938292103728/posts/default/1826740798059707164'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4972090938292103728/posts/default/1826740798059707164'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kekalkumatiku.blogspot.com/2011/11/masa-depan-kekinian-kita.html' title='Masa Depan “Kekinian” Kita'/><author><name>ahmadkekalhamdani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04993144587058559417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_Q-VWtJ0Gmno/TSZxPkTq6DI/AAAAAAAAAM8/Ed1HG9mHb38/S220/potret%2Bdiri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4972090938292103728.post-7340315113940694834</id><published>2011-08-23T09:10:00.000-07:00</published><updated>2011-08-23T09:35:28.790-07:00</updated><title type='text'>Potret Perjalanan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-PiFcDf2dHRA/TlPRlxBa7XI/AAAAAAAAAUk/AlglYJ0qfh8/s1600/kenangan%2B4.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-PiFcDf2dHRA/TlPRlxBa7XI/AAAAAAAAAUk/AlglYJ0qfh8/s320/kenangan%2B4.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5644085204770024818" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-OEXT4iBFeEk/TlPRlrKXjwI/AAAAAAAAAUc/zlm530ZAioo/s1600/kenangan%2B3.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-OEXT4iBFeEk/TlPRlrKXjwI/AAAAAAAAAUc/zlm530ZAioo/s320/kenangan%2B3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5644085203196940034" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-qh4_OgPJajc/TlPRlTdc_QI/AAAAAAAAAUU/_Wm6y4loSeg/s1600/kenangan%2B2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-qh4_OgPJajc/TlPRlTdc_QI/AAAAAAAAAUU/_Wm6y4loSeg/s320/kenangan%2B2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5644085196834536706" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-TKB900CGNwo/TlPRlbdJHRI/AAAAAAAAAUM/_j1U-PX5w6w/s1600/kenangan%2B1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-TKB900CGNwo/TlPRlbdJHRI/AAAAAAAAAUM/_j1U-PX5w6w/s320/kenangan%2B1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5644085198980717842" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-9wzvyl08tzg/TlPRlwo2PII/AAAAAAAAAUs/S2GIFFm1t8E/s1600/kenangan%2B5.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-9wzvyl08tzg/TlPRlwo2PII/AAAAAAAAAUs/S2GIFFm1t8E/s320/kenangan%2B5.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5644085204666956930" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;keterangan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Bersama kawan-kawan "Ranggon Sastra" seusai kegiatan lomba baca puisi dan bedah buku "Rembulan di Taman Kabaret" di Unindra Jakarta, akhir 2009.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Poto bersama saat "Wisata Budaya" dalam rangkaian kegiatan pasca-Temu Sastrawan Indonesia II di Bangka-Belitung, awal 2009.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Santai-santai sama si "Yan Zavin", "Wildan", "Munajat Sunyi", selepas Tahlilan Sastra di Rumah Kreatif Matapena, kayaknya juga akhir 2009. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Nah. yang ini ketika persiapan pentas ama dulur-dulur "Bawah Pohon", saya jadi tukang pegang mic-nya. :), kayaknya juga akhir 2009, kala itu Ramadhan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Yang ini bersama teman-teman sastra Unijoyo Bangkalan, ada mas "Timur Budi Raja" juga di samping kiri saya. Selepas kegiatan Workshop Puisi dan bedah buku "Rembulan di Taman Kabaret", juga akhir 2009 silam. Apakah mereka masih menulis puisi???&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4972090938292103728-7340315113940694834?l=kekalkumatiku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kekalkumatiku.blogspot.com/feeds/7340315113940694834/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4972090938292103728&amp;postID=7340315113940694834' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4972090938292103728/posts/default/7340315113940694834'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4972090938292103728/posts/default/7340315113940694834'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kekalkumatiku.blogspot.com/2011/08/blog-post.html' title='Potret Perjalanan'/><author><name>ahmadkekalhamdani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04993144587058559417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_Q-VWtJ0Gmno/TSZxPkTq6DI/AAAAAAAAAM8/Ed1HG9mHb38/S220/potret%2Bdiri.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-PiFcDf2dHRA/TlPRlxBa7XI/AAAAAAAAAUk/AlglYJ0qfh8/s72-c/kenangan%2B4.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4972090938292103728.post-2664356839782291026</id><published>2011-08-08T01:14:00.000-07:00</published><updated>2011-08-11T09:34:26.735-07:00</updated><title type='text'>YANG BERKATA TIDAK PADA MAUT</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Oleh&lt;/em&gt; Ahmad Kekal Hamdani&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dalam  suatu kesempatan diskusi kecil dan massif di kediaman sastrawan Raudal  Tanjung Banua, tepatnya dalam forum diskusi “Rumah Lebah” di daerah  Bantul (Yogyakarta), saya mendapati diri saya dirundung sesuatu. Di  dalam kesempatan forum yang hangat dan penuh nuansa kekerabatan itu,  dengan hikmat beberapa kalangan sastrawan muda membincangkan sosok dan  karya Wisran Hadi, sastrawan/seniman asal Padang, Sumatera Barat guna  memperingati tutup usia beliau di usianya yang ke-66 (pada Selasa, &lt;em&gt;28 Juni 2011&lt;/em&gt;) -semoga rahmat tuhan mengiringi beliau.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Diskusi  yang dipantik oleh Lilik Zurmailis (pengajar sastra di Universitas  Andalas Padang) dan dimoderatori Raudal Tanjung Banua sendiri  berlangsung renyah dan mengalir hingga ke perbincangan persoalan  kesenian, pasca-kolonialisme, modernitas dan perbincangan ringan  lainnya. Dari perbincangan yang hangat dan hikmat itu, sembari menikmati  panorama pedesaan yang kuat di antara keliling pohonan jati. Batin saya  menukik dan menerjang ke sebalik belukar dan julangan-julangan pohon,  mengembara di bukit-bukit. Lalu dengan takdzim saya nikmati alur pikiran  saya yang bernegasi dan mencari sesuatu ke ruang yang lain.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Saya  tersihir dan dalam beberapa titik merasa terlempar ke dalam realitas  sebenarnya yang saya hadapi kini. Inspirasi dan kisah-kisah proses  kreatif sosok besar seperti yang telah meninggalkan kita; WS. Rendra,  Gus Dur, dan terakhir adalah teaterawan Wisran Hadi, adalah sebentuk  kesedihan yang miris ketika saya kembali teringat di zaman apa kini kita  (generasi penyair muda) hidup dan bergulat. Forum kecil ini telah  melemparkan saya ke dalam kenyataan diri saya sendiri, yang tentu saja  adalah bagian dari kekinian realitas yang terus berkembang ini.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sebuah  dunia ketika setiap laju perputaran hidup benar-benar diperas oleh  kapitalisme dan borjuisasi kesenian dengan seribu topengnya yang lena,  demokratisasi media yang tak kenal ampun, produksi massal hasil-hasil  kebudayaan ke dalam bentuk-bentuk benda mundan ala modernitas, di mana  dunia politik citra dan candu kekuasaan menjadi trend dan gaya hidup  kaum muda bahkan di tataran bangku perkuliahan.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Demokratisasi  media dan derasnya arus informasi digital membawa paradoksnya  tersendiri bagi jagad teks (puisi). Barangkali memang sebuah kenyataan  yang menggembirakan ketika pada setiap harinya kita hampir tidak dapat  bisa menghitung banyaknya penyair muda yang tumbuh. Namun di sisi lain  kita jadi menyadari sebagaimana kita tak dapat menemukan momen jeda  untuk menyerap energi puitik yang sesungguhnya ketika dera arus itu  seperti bah Nuh yang menenggelamkan peta cakrawala perpuisian kita.  Sastra tumbuh deras hampir tanpa dialektika dan proses kreatif yang  tajam.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Riwayat hidup para empu tentu akan menjadi  sebuah kaca perbandingan yang menarik untuk refleksi atas paradigma  sastra di kalangan muda kita kini. Bahwa memang bersastra (puisi) tidak  semata-mata mengolah bahasa dan bergulat dengan kata. Bagaimanakah  dengan potret-potret perjalanan penyair-penyair besar (dalam arti yang  telah memberi konstribusi) kita di masa sebelumnya, dengan atmosfer yang  tentunya memang berbeda lantas dapat menjadi ruh bagi pergerakan  zamannya?&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Puisi lahir dari akar kemanusiaan kita, di  mana daya hidup dan vitalitas aktif dan giat memeram dan memecah diri.  Menulis puisi adalah membangun ruang politik personal ke ruang sosial  yang lebih lebar ke dalam suatu bentuk meta-kode bahasa. Untuk kemudian  impuls dan daya kejut dari pengalaman-pengalaman impersonal ditumbukkan  dengan realitas pembaca.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kewajiban pertama seorang  penyair barangkali adalah kewajiban terhadap dirinya sendiri sebagai  pribadi, sebagai keutuhan, di mana energi, ruh, daya pikir dan imajinasi  membangun medan bagi yang lain, bagi realitas di sekitarnya untuk  memeram kode-kode budaya ke dalam medan bahasa yang otentik dan merdeka.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dalam  yang demikianlah kerja kepenyairan kemudian menjadi hal yang tidak  mudah. Meski teknologi di sekitar kita telah sedemikian canggihnya  memberi jalur pertukaran informasi dan ruang komunikasi yang massif,  namun itu semua sama sekali tidak memberi jaminan akan lahirnya sikap  terhadap kebebasan dari energi kreasi itu sendiri. Di mana pandangan  hidup dapat membentuk kepribadian dan memberi tempat bagi kedirian di  antara kompleksitas ruang sosialnya yang kerap bergerak secara sporadik  dan mengejutkan.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Barangkali tak perlulah kita  menyesalkan lahirnya arus-arus baru ini. Ketika generasi digital lantas  membangun kontingennya sendiri, penerbit-penerbit kecil tumbuh seperti  rumput-rumput di musim penghujan, komunitas-komunitas dibangun,  media-media alternatif bermunculan, jurnal-jurnal, buletin-buletin  dengan dana minim tapi dengan semangat yang berkobar, dan semacamnya.  Kita hanya membutuhkan semacam pendidikan kesadaran fungsi dari  kesusastraan, di mana kaum muda dapat memberi sikap (embanan) atas pola  geraknya untuk mempersiapkan masa depan bagi generasinya yang akan  datang, yang juga akan lahir secara tak terduga dengan kemungkinannya  masing-masing.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Agar sastra tidak sekedar menjadi sampah  dari dunia maya yang bergerak tanpa dinding dan sekat. Agar dunia  kepenyairan tidak hanya menjadi pesta pasar malam di mana lampu-lampu  menyilau hampir membutakan para pembacanya. Kita (kaum muda) tumbuh di  atas tanah pijak yang kehilangan mimpi revolusi, di mana pahlawan telah  mati, ketika dunia dapat digerakkan dengan hanya satu tombol “klik”.  Bila saya mengutip Thendra dalam salah satu sajaknya, juga pernah  ditulis Chairil Anwar di masa yang lebih lampau, semua ini memang bukan  untuk ke pesta!&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Saya tiba-tiba kembali ke dalam sebuah  perbincangan. Di sebuah beranda dengan beberapa cangkir kopi dan kacang  rebus. Ke dalam sebuah forum kecil yang hangat dengan suara-suara  gemerosok daun jati yang kering dihantam musim. Batin saya kembali  menukik mencari anasir-anasir bagaimana seniman (sastrawan) yang lebih  mula bertahan dari maut dan mitos kematian.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kita telah  sampai juga bukan? Dalam sebuah masa ketika pribadi-pribadi besar  ditumbangkan waktu dan usia. Tapi  kita menjadi semakin sadar apa  sebenarnya yang memelihara rantai kreatif kekaryaan para seniman  (sastrawan) dari zaman ke zaman? Bahwa ruh dan semangat zaman mereka  terasa hingga kini. Di sini, di sebuah beranda dengan obrolan hangat,  kawan-kawan yang setia terhadap kesenian, sejarah akan terus tumbang dan  tumbuh! []&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Yogyakarta, 2011&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sumber: &lt;/span&gt;&lt;span&gt;http://padangekspres.co.id/?news=nberita&amp;amp;id=763&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4972090938292103728-2664356839782291026?l=kekalkumatiku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kekalkumatiku.blogspot.com/feeds/2664356839782291026/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4972090938292103728&amp;postID=2664356839782291026' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4972090938292103728/posts/default/2664356839782291026'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4972090938292103728/posts/default/2664356839782291026'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kekalkumatiku.blogspot.com/2011/08/yang-berkata-tidak-pada-maut.html' title='YANG BERKATA TIDAK PADA MAUT'/><author><name>ahmadkekalhamdani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04993144587058559417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_Q-VWtJ0Gmno/TSZxPkTq6DI/AAAAAAAAAM8/Ed1HG9mHb38/S220/potret%2Bdiri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4972090938292103728.post-9130523759093601589</id><published>2011-06-11T22:35:00.000-07:00</published><updated>2011-06-28T06:26:31.163-07:00</updated><title type='text'>KAMPUNG HALAMAN KATA DAN KITA</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Barangkali memang adalah kodrat, bahwa tiap-tiap dari segala sesuatu memiliki paradoks di dalam tubuhnya sendiri. Agar setiap entitas kemudian mendapatkan interaksinya dengan yang lain, membangun dialektika dari saat ke saat menemukan posisinya yang ajeg dan tak ada ujung.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Proses demikian akan menjadi bentuk harmonisasi bila diiringi dengan sebentuk kearifan dan tradisi komunikasi yang matang dan kondusif. Namun sebaliknya, akan menjadi sebuah polemik yang berujung pada kerugian bila proses komunikasi itu berupa tumbukan antara dua kutub yang berbeda dengan kekurangan kedewasaan dalam membedakan realitas ide dan realitas riil di lapangan praksisnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Belakangan ini di perbincangan sastra Yogyakarta hal yang demikian tiba-tiba santer menyeruak ke permukaan. Diawali seputar anasir kebangkitan sastra Yogya, yang juga saya tulis dalam menanggapi esai Otto Sukatno CR (MP No 45 TH 63, Februari 2011) hingga polemik persoalan Yayasan Sastra Yogya (YSY) yang pada belia usianya memberikan penghargaan terhadap tiga pelaku dunia sastra; Prof C. Soebakti Soemanto, Sri Widati dan Evi Idawati.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Tentu bukanlah hal yang mudah mencari objektivitas dalam hal siapa yang mesti dimenangkan dalam membincang konstribusi sastra yang kini mengalami demokratisasi di banyak wilayah ruangnya. Baik sastra sebagai gerakan sosial-kultur &lt;i&gt;an sich&lt;/i&gt; maupun sastra sebagai teks dengan kemungkinan-kemungkinan kekuatan media yang ada. Hal ini kemudian menarik polemik yang kini cukup memberikan warna dalam membincangkan gerakan sastra mutakhir di Yogyakarta. &lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Apa yang ditulis oleh cerpenis Mahwi Air Tawar (MP No 05 Th 64, April 2011) dalam mempertanyakan kembali kredibilitas dan konsistensi lembaga-lembaga kebudayaan (sastra) di Yogyakarta dan Indonesia secara umum (Tempo, misalnya) adalah sebentuk dialog. Di mana kemungkinan dialektika mencoba dibangun, &lt;i&gt;dus&lt;/i&gt; hal ini langsung mendapatkan tanggapan dari beberapa penikmat sastra dengan sebentuk ego yang keluar dari konteks pembicaraan dan kurang berdasar. Bukannya membicarakan persoalan utama tentang polemik ‘Yayasan Sastra Yogyakarta’ justru menyerang subjektivitas personal.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Hal ini diperkuat bagaimana tanggapan-tanggapan ini sangat berbau sarkasme dengan pilihan-pilihan ungkapan yang dititik-beratkan pada “etika pada senior” dan bahkan legitimasi etnis-geografis. Titik kerancuan ini salah satunya bertumpu dalam hal definisi tentang “Sastra Yogya” sehingga garis demarkasi sastra menjadi luber dan tak tentu arah.&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Yang demikian menyebabkan kebocoran-kebocoran sehingga sesuatu yang “politis” mudah merangsek di dalamnya. Hingga patut kiranya bila para pelaku sastra yang bergulat di Yogyakarta mengalami kecemasan di tengah-tengah realitas sastra Indonesia secara umum yang kian gamang ini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Saya tiba pada pertanyaan bahwa, di manakah kampung halaman kesusastraan Indonesia itu sendiri? Sebab jika persoalan titik tekannya adalah sastra “Yogya”, apakah kemudian Yogya dipahami sebagai territorial politik geografis dengan gejala-gejala realitas sosial-politiknya, atau Yogya sebagai medan kultur budaya dengan segala perangkat sosial dinamiknya, yang merdeka sebagai perhelatan budaya yang (sekali lagi) memberi konstribusi cukup besar bagi perkembangan Sastra Indonesia?&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Keduanya memiliki perbedaan tajam dan konsekuensi-konsekuensi logisnya. Yang pertama ruang lingkupnya akan menjadi lebih sempit serta rentan terhadap anasir dan kecurigaan-kecurigaan politis di dalamnya, kaitannya dengan bentuk kelembagaan serta kondisi sosial-politik dan budaya setempat. Sementara yang kedua memiliki garis yang lebih lebar dengan menjebol sekat-sekat identitas sosial politis dan kultur sastra itu sendiri, yang memberi mungkin bagi kemerdekaan berkarya mendapatkan moment dan ruangnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Hal di atas barangkali yang luput (untuk tidak mengatakan sengaja diabaikan) dari pertimbangan Yayasan Sastra Yogyakarta (YSY) itu sendiri. Melihat bahwa begitu banyak kerancuan epistemologis dan orientasi dari ceramah pertanggung jawaban Aprinus Salam yang mewakili Yayasan Sastra Yogyakarta (YSY) tersebut.&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Ini menabalkan keyakinan saya bahwa; belum ada kajian dan sikap tegas terhadap redefinisi lokalitas sastra Indonesia di tengah-tengah sosial kulturnya yang heterogen.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Proses kreatif penyair Yahudi-Jerman bernama Heinrich Hein (sebagaimana pernah ditulis Ignas Kleden dalam esainya), barangkali menarik untuk menjadi pelajaran. Penyair Hein adalah potret pribadi penyair yang mesti berjuang mencari kampung halaman bagi eksistensi dan keutuhan identitasnya. Lahir di Jerman dan menghabiskan waktunya bersastra di Prancis, ia seakan tidak pantas menerima segala yang patut diterimanya. Di Prancis, ia dianggap orang Jerman. Sementara di Jerman ia dikucilkan oleh kalangan sastrawan Jerman dan lingkungannya karena dianggap Yahudi. Di Prancis ia diakui sebagai penyair besar namun tidak sebagai anggota komunitas penyair Prancis. Bahkan ia sampai meninggalkan agama Yahudi dan dibaptis Kristen pada 1825. Hingga akhirnya Hein sendiri menemukan dan mengamini tumpah darah (tanah air)-nya yaitu bahasa Jerman, sastra Jerman. &lt;span&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Apa yang hendak saya sampaikan adalah, bahwa polemik ataupun benturan komunikasi sastra untuk mengambil bentuk dialektiknya adalah hal yang nisacaya. Hal ini mesti dipahami dengan sikap lapang sebagai bentuk dari apresiasi sastra dan masyarakatnya. Apa yang dilontarkan Mahwi adalah sebuah gambaran kecil dari sudut pandang yang lebih luas, dengan tidak hanya meng-amsalkan kasus yang terjadi di Yogya saja tetapi juga di luar territorial dan garis-garis kultur lokal. Dengan harapan lahir sikap ketegasan dalam menarik benang-benang merah serta rasionalisasi dari tindak-tanduk laku budaya kita, utamanya dalam konteks seni budaya (sastra) di Yogyakarta.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Menarik hal ini ke dalam wilayah etika komunikasi budaya semacam “ketidak sopanan terhadap senior” adalah salah kaprah. Kritik adalah bentuk dari perhatian dan apresiasi yang juga mesti disikapi dengan rasionalitas dan kedewasaan sikap –yang tentu saja diiringi dengan ke-empu-an terhadap persoalannya. Dan melingkarkan ini dalam identitas ke-lokal-an dengan gaya umpatan halus namun berlawan dari adab adalah jauh dari keluhuran yang hendak diperjuangkan itu sendiri. []&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;i&gt;&lt;span&gt;Yogyakarta, 2011&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4972090938292103728-9130523759093601589?l=kekalkumatiku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kekalkumatiku.blogspot.com/feeds/9130523759093601589/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4972090938292103728&amp;postID=9130523759093601589' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4972090938292103728/posts/default/9130523759093601589'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4972090938292103728/posts/default/9130523759093601589'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kekalkumatiku.blogspot.com/2011/06/kampung-halaman-kata-dan-kita.html' title='KAMPUNG HALAMAN KATA DAN KITA'/><author><name>ahmadkekalhamdani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04993144587058559417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_Q-VWtJ0Gmno/TSZxPkTq6DI/AAAAAAAAAM8/Ed1HG9mHb38/S220/potret%2Bdiri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4972090938292103728.post-1787748580324314837</id><published>2011-04-24T07:39:00.000-07:00</published><updated>2011-04-24T07:45:22.693-07:00</updated><title type='text'>YANG MAHA ANEH</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kebahagiaan adalah fana, kefanaan adalah abadi, dan keabadiaan hampir seperti mimpi yang tak pernah nyata.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia memang seperti dibebani oleh melankolia keajaiban-keajaiban, tapi kemanusiaan belum benar-benar siap untuk menerima kejutan dan keajaiban-keajaiban itu. Begitu kata seorang kawan; Teguh, dengan mimik yang serius. Kawan yang tidak lama saya kenal lewat pertemuan-pertemuan sastra dan &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-xvDSRmSZoGw/TbQ3Zx4we3I/AAAAAAAAAR8/zWhRvIa0QSY/s1600/230px-Hu_on_Gravestone.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-xvDSRmSZoGw/TbQ3Zx4we3I/AAAAAAAAAR8/zWhRvIa0QSY/s200/230px-Hu_on_Gravestone.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5599161152756022130" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;diskusi-diskusi kecil tak berencana di sebuah warung kopi itu. Sesekali menghisap batang tembakaunya dalam, membolak-balik bukunya yang lusuh, dan menatap mata angin lain dengan tatapan nanar, menyala redup, seperti keseriusan yang tak sungguh. Kalau saya tebak, dia pasti sudah cukup lama kesulitan tertawa dan menangis. Dari kata-kata kawan saya itu, saya sedikit ingin berbincang dengan masyarakt sekalian tentang arti kejanggalan-kejanggalan dalam hidup. Setidaknya, lakon hidup yang ada di sekitar alam indra dan rohani saya, tentang apapun itu, yang penting keganjilan-keganjilan dan lelucon yang tidak lucu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat hidup bersama utopia-utopia kebahagiaan yang tidak pernah utuh. Kehidupan yang penuh alam mimpi ini adalah mitos yang berkembang biak menurut tradisinya sendiri, yakni kegilaan-kegilaan yang wajar. Apakah tidak gila namanya jika perilaku korupsi, tipu-menipu, khianat mengkhianati atau sikut kanan-kiri dikatakan sesuatu yang absah dalam politik? apakah tidak gila namanya bila hanya demi kepentingan kapitalisme yang lebih besar pasar-pasar tradisional dibumi hanguskan? sementara pelakunya sendiri pintar sekali pura-pura menangis di televisi. Dan lebih gilanya lagi penonton televisinya sendiri menyimak berita bencana alam dan kriminal sembari pacaran. Logika terbalik yang sudah kehilangan kutub positifnya. Siapakah yang patut disalahkan atas kekacauan kemanusiaan? tak ada, kecuali kebijaksanaan untuk pulang pada diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi teringat, Kanjeng nabi Muhammad Saw pernah bersabda -entah diriwayatkan dari siapa- bahwa orang baik tidak bahagia (kurang lebih seperti itulah kemampuan ingatan saya). Kenapa orang baik tidak bahagia Rosul? tanya saya pada diri saya sendiri (mengandaikan ada percakapan tersendiri dalam kepala saya dengan Rasulullah). Manusia bertahan secara dinamik, dengan interaksi-interaksi dan dinamika yang beragam dan kompleks, perjalanan fisik dan batin akan menambah ke-kompleks-an seorang individu. Disitu, seseorang dituntut menjadi pribadi yang nyaris, namun tidak pernah menjadi sesuatu. Nyaris dalam kekacauan dan keteraturannya. Seseorang yang tidak memiliki kepekaan biasanya terkesan mandul sosial. Namun tidak jarang seseorang yang terlalu peka rasa empatinya terkadang justru nampak seperti orang yang sombong dan tidak melakukan apa-apa. Oleh karena itu, proses menjadi orang baik tentu tidak mudah. Apalagi jika belum apa-apa sudah mengharapkan imbalan popularitas dan ketenaran. Terkadang, orang yang baik di mata sosial pun tidak pernah benar-benar baik di mata dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan ini,di beberapa negara muslim timur (termasuk juga indonesia) banyak hujatan terhadap kaum tarikat-tarikat tertentu yang bagi mereka terlalu berlebihan dalam berdzikir hingga nampak seperti gerombolan orang gila. Mungkin ini dikarenakan perdebatan tentang hadits Rosul yang menyatakan "Perbanyaklah dzikir sehingga orang-orang berkata, 'engkau gila!". Tentu saya tidak akan mendebatkan tentang kesahihan hadits ini. Namun, saya sering menemukan (bahkan mungkin masyarakat semua) bahwa begitu banyaknya orang-orang yang menggilakan diri agar orang lain berkata (setidaknya dianggap), ia sedang berdzikir! bukankah ini lebih nyata kegilaannya. Ini paradoks, dan kegilaan-kegilaan yang hampir menjadi kewajaran dalam kehidupan kita sehari-hari, termasuk dalam kefanaan saya sebagai pribadi. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kebahagiaan adalah fana, kefanaan adalah abadi, dan keabadiaan hampir seperti mimpi yang tak pernah nyata.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini semua tentu hanya sebagian kecil dari kegilaan-kegilaan itu, manusia layaknya yang disebut oleh Johan Huizinga adalah makhluk yang bermain (Homo Ludens). Yah yang bahkan suka mempertaruhkan kekonyolan-kekonyolan dirinya sendiri demi sebuah permainan. Antara bagaimana menang untuk diriku dan kalah untuk dirimu. Bukankah hanyalah permainan semua ini? Di satu sisi, tuhan nampak terlalu serius bukan? tapi di sisi lain Ia nampak sangat asyik dengan keisengannya. Seakan-akan Ia berfirman: carilah tuhanmu dalam kebodohanmu wahai manusia. Dan di atas segala perkembangan ilmu dan pengetahuan manusia, Allah selalu menyediakan semesta kebodohan yang lebih luas untuk kemanusiaan. Semua nampak rahasia, namun semua juga nyata adanya. Demikianlah, yang aneh bagi kita, adalah yang wajar bagi orang lain. Tuhan dengan segala misterinya, adalah yang maha aneh bagi saya. Ia selalu menempatkan peristiwa dalam bejana irasional dan kejutan-kejutan yang tentu saja nampak tidak perlu pengertian dan definisi yang jelas, tapi layaknya musik, kadang tidak perlu dipermanai tapi dirasakan, ditempat yang paling lubuk dari hati nurani. Hingga yang lebih urgen pada akhirnya adalah proses dan pengalaman yang memberi pembelajaran itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disinilah akhirnya nampak arti dari sebuah ketawakkalan, penyerahan diri, kepasrahan atas segala permainan lengkap dengan keasyikan juga kebusukannya. Kesadaran dan pemenuhan secara total akan kehidupan. Perhiasan yang akan membuat kita tertawa dan menangis, antara mendapatkan dan kehilangan. Di dunia ini: Kebahagiaan adalah fana, kefanaan adalah abadi, dan keabadiaan hampir seperti mimpi yang tak pernah nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Yogyakarta, 2010&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4972090938292103728-1787748580324314837?l=kekalkumatiku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kekalkumatiku.blogspot.com/feeds/1787748580324314837/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4972090938292103728&amp;postID=1787748580324314837' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4972090938292103728/posts/default/1787748580324314837'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4972090938292103728/posts/default/1787748580324314837'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kekalkumatiku.blogspot.com/2011/04/yang-maha-aneh.html' title='YANG MAHA ANEH'/><author><name>ahmadkekalhamdani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04993144587058559417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_Q-VWtJ0Gmno/TSZxPkTq6DI/AAAAAAAAAM8/Ed1HG9mHb38/S220/potret%2Bdiri.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-xvDSRmSZoGw/TbQ3Zx4we3I/AAAAAAAAAR8/zWhRvIa0QSY/s72-c/230px-Hu_on_Gravestone.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4972090938292103728.post-3281705154609238959</id><published>2011-04-17T10:57:00.000-07:00</published><updated>2011-06-28T06:30:14.027-07:00</updated><title type='text'>KIAI KAKI LIMA</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;~&lt;/em&gt;Ahmad Kekal Hamdani&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Senja kuning dibakar matahari yang semurup ke barat. Jalan-jalan dipenuhi dengan kendaraan yang sunyi menjelang maghrib turun. Lampu-lampu kota yang bersitegang dengan cahaya matahari yang hampir punah, berebut terang di sore yang dipenuhi geletar kangen. Suasana di mana saya biasa pulang dari hibuknya agenda-agenda yang tak semuanya jelas untuk apa. Terkadang, sehabis saya berdiskusi dengan beberapa kawan di emperan kampus –menjadi kecoak-kecoak perguruan tinggi. Terkadang juga dari sebentuk kekesalan karna seharian tak jumpa dengan moment puitik, maka saya hanya akan menghabiskan waktu dengan berjalan saja tanpa tujuan; atau kepulangan dari perjalanan ke luar kota hanya untuk mengurus bahasa yang saya sendiri tak paham benar untuk apa dan siapa.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Saya terbiasa berjalan kaki saja di sepanjang trotoar menuju pulang ke sebuah kamar kontrakan berukuran 4x5 di daerah perkampungan Papringan, Sleman, Yogyakarta. Sebuah kamar yang dipenuhi persoalan tempat saya mengeram segala bentuk perjalanan, menghembuskannya kembali di antara tumpukan-tumpukan buku yang berjajar tak rapi, beberapa botol dan kaleng bekas minuman, luka-luka sejarah yang tercecer dan sebagian tergenang jadi arak, beberapa potret, dan &lt;em&gt;notebook&lt;/em&gt; yang menyala dengan capainya -yang seperti menagih-nagih sesuatu ke batin saya; sadis.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di jalan-jalan inilah saya akan mengawali hikayat sebuah pertemuan dengan sosok bijak bestari (lebih tepatnya beberapa sosok) yang tak pernah saya temukan di buku dan kitab-kitab mana pun, apalagi diharap akan muncul di sebuah stasiun televisi. Tepat setelah maghrib menggeliat di antara lekuk langit yang memerah, dan udara serasa mulai temaram, di tengah perjalanan itulah saya mampir ke sebuah “angkringan”, semacam tempat makan tradisional kaki lima yang kerap biasa kita temui di kota gudeg ini. Dengan menu-menunya yang sederhana yang biasanya terdapat ‘kepala ayam’ kesukaan saya. Setelah minta dibakar di atas arang yang menyala, dan harumnya sampai ke alam khusyuk saya, rasa-rasanya saya sedang sholat saja saat itu.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Beberapa orang biasanya juga akan singgah, entah itu tukang becak, pembuat stempel, pengangguran, tukang parkir yang penat seharian menjaga motor dan mobil-mobil mewah para pejabat, mahasiswa yang mukanya sedang miskin, dan tak jarang cewek-cewek cantik yang kebetulan saja suka makan ‘nasi kucing’ dan 'kepala ayam' seperti saya. Beberapa dari mereka singgah sebentar saja, memesan lalu pergi. Sebagian juga bisa berjam-jam lamanya; karena biasanya mereka masih saling mengobrol di antara jajanan dan lampu minyak yang tertempel di tiang gerobak, manis sekali. Mulai dari persoalan pekerjaan hingga persoalan khas kehidupan yang lucu namun juga terkadang pahit kayak empedu.    &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dan betapa kagetnya saya ketika tiba-tiba obrolan antara penjaga ‘angkringan’ dan tukang becak itu sampai kepada gedung DPR. Saya yang berpredikat mahasiswa (dan penyair tentu saja) tiba-tiba merasa kuping panas, bagaimana tidak, saya cukup terkesan dengan cara mereka mengobrol dengan santai dan bersahaja. Saya yang seharian habis babak-belur berdiskusi dengan beberapa kawan (aktivis) soal bangsa ini, di mana kerap saya temui berapi-api hendak membikin revolusi, dan kawan-kawan kesenian yang katanya serba indah, kini saya mendengar mereka &lt;em&gt;ngobrolin&lt;/em&gt; soal bangsa ini seperti seorang ayah kepada anaknya. Betapa maklum mereka kepada tingkah para pejabat kini yang kekanak-kanakan, yang kerjaannya tidur saat rapat, menonton bokep, saling hujat, lalu dengan senyum yang khas menyelundupkan kekayaan rakyat dan bangsa ke kantongnya sendiri. Seakan mereka terima saja, toh mereka masih bisa makan di senja begini walau seharian kudu menarik becak hingga betis-betis mereka keras serupa beton.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Benar saja, di sebelah angkringan itu memang terdapat sebuah Masjid. Sang penjual lantas berpamit kepada saya untuk sebentar saja melaksanakan shalat maghrib, saya hanya mengangguk sambil tersenyum dengan perasaan seakan tanpa dosa. Pembeli yang lain telah pulang. Saya jadi berpikir, demikian santai dan sederhananya kehidupan mereka. Betapa penjual ini pasrah, apakah ia tidak tahu bahwa salah seorang pembeli (saya) sedang lapar benar dan hanya memegang duit sedikit saja, bisa saja saya akan mencuri beberapa gorengan untuk kemudian saya makan dengan rakusnya, atau mengantongi barang sebatang dua batang rokok. Keimanan saya sedang diuji. Tapi saya tahu, saya orang baik-baik tampaknya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Maghrib semakin tergelepar saja di aspal jalanan yang semakin kelam, dibanting dan dihuyungkan oleh mobil-mobil yang berseliweran. Penjaga angkringan telah kembali, kami dengan hangatnya lantas bercakap-cakap. Dengan tutur kata yang halus dan sesekali sembari diiringi sepucuk senyum atau tawa kecil kami obrolkan juga beberapa soal, mulai dari mana kita berasal, pengalaman rantau, hingga ke soal-soal isu konflik agama yang belakangan mencemaskan di layer televisi dan media-media cetak. Saya terkagum-kagum, dengan mimik khas &lt;em&gt;wong cilik &lt;/em&gt;yang sedang berbicara saya dengar dari ucapannya keluar tafsir dan dalil-dalil yang kerap saya temui di pesantren, dengan beberapa kebajikan yang sangat bersahaja dengan air muka yang sama sekali tak berniat menonjolkan pengetahuaannya. Ia lebih arif dari para pendakwah dan pemfatwa yang kerap saya dengar lewat corongan-corongan di pengajian televisi yang muluk atau di alun-alun kota dulu. Diam-diam hati saya menyimpan decak kagum yang sungguh.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Angkringan; semacam warung kaki lima memang bukanlah sebuah masjid, bukan juga padepokan, bukan pesantren, bukan mimbar semacam di Taman Ismail Marzuki (TIM) tempat biasanya orang-orang (yang merasa) berbudaya berkumpul, bukan pula sebuah aula seminar tempat para cendekia memberi ceramah, ia (angkringan) tak lebih adalah &lt;em&gt;rendesvouz. &lt;/em&gt;Sebuah tempat pertemuan orang-orang kecil memberi jeda pada hidupnya. Tempat orang-orang yang dianggap lamban mengejar hidup yang tak kenal ampun.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Namun di balik kesederhanaan pertemuan mereka, di tengah cakap yang hangat dibarengi kepulan asap rokok yang membelah cahaya remang lampu minyak, ada sebuah kebajikan dan kesahajaan yang sungguh mahal harganya. Sebuah kebajikan yang telah menjadi demikian langka di dunia yang semakin sibuk telikung kanan dan kiri.  Saya tiba-tiba merasa menjadi seorang murid dari guru kehidupan yang menemukan harmoninya dengan alam keras dan angin badai takdir kemanusiaan. Layar di kepala saya terus berputar hingga ke kampung halaman tempat saya lahir, terus berputar kembali memberikan gambar perjalanan hidup saya yang dipenuhi arogansi dan kesombongan; bahkan ketika saya mencoba berbicara soal kesederhanaan dan kerendahan hati.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di saat begini, kala senja kuning makin memerah di barat untuk berebut cahaya. Batin saya seperti sebuah nyala arang yang tiba-tiba dicelupkan begitu saja ke laut. Lanskap di sekitar saya tiba-tiba lenyap lantas menjelma medan pasir yang berputar-putar tanpa jelas mana kutub arah-Nya. Saya merasa sembahyang begitu saja. Saya amini yang asing itu datang dan memeluk saya, saya tahu, berdosa itu baik, tapi menyadari dosa itu memang lebih indah daripada bersetubuh dan membikin dosa. Menyadari dan menyesali dosa itu lebih nikmat dari arak mana-pun yang pernah ada. Tiba-tiba saya merasa tahu alasan tuhan menurunkan Adam ke bumi yang tua ini. Barangkali hanya untuk belajar menyesal? Barangkali!&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Malam benar-benar telah ambruk di kota ini. Saya pun berpamitan kepada penjual yang saya hormati lebih dari presiden itu. Saya tinggalkan ia, saya tinggalkan kilasan potret itu menuju kamar saya, tempat saya dapat bercermin dengan telanjang, tempat saya mencatat apa yang barangkali melintas begitu saja. Saya akan segera menulis puisi, batin saya. Entah mengapa, tiba-tiba pipi saya seakan memerah dan jemari saya seakan-akan bertanya; siapakah penyair itu? []&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Yogyakarta&lt;/em&gt;&lt;em&gt;, April 2011&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4972090938292103728-3281705154609238959?l=kekalkumatiku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kekalkumatiku.blogspot.com/feeds/3281705154609238959/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4972090938292103728&amp;postID=3281705154609238959' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4972090938292103728/posts/default/3281705154609238959'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4972090938292103728/posts/default/3281705154609238959'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kekalkumatiku.blogspot.com/2011/04/kiai-kaki-lima.html' title='KIAI KAKI LIMA'/><author><name>ahmadkekalhamdani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04993144587058559417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_Q-VWtJ0Gmno/TSZxPkTq6DI/AAAAAAAAAM8/Ed1HG9mHb38/S220/potret%2Bdiri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4972090938292103728.post-9155001702356057757</id><published>2011-03-09T23:45:00.000-08:00</published><updated>2011-08-27T08:25:56.070-07:00</updated><title type='text'>SASTRA YOGYA: Antara Pesimisme dan Cita-CIta Utopis</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="line-height: 115%; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Ahmad Kekal Hamdani&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style=" font-style: normal; line-height: normal; "&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="line-height: 115%; "&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%; font-size:100%;" &gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;            Optimisme Otto Sukatno CR (Minggu Pagi 23/1) perihal tahun 2011 sebagai fajar kebangkitan sastra Yogja sepertinya patut untuk diapresiasi. Sebagaimana harapan-harapan yang diutarakannya di dalam tulisannya tentang sastra jogja ini memiliki beberapa alasan dan diktum cukup menarik guna diperbincangkan lebih lanjut (tentunya dengan disusul konsistensi beberapa agenda seperti yang telah terlaksana belakangan ini di Yogyakarta), tanpa menghilangkan daya kritis kita dalam membaca gerakan sastra di Yogya, yang belakangan ini mengalami pasang surut dalam bentuk gerakan sastra di lapangan riil (lapangan) masyarakat. Dikatakan demikian, karena beberapa kasus yang disebutkan oleh Otto masih merupakan bentuk perayaan dari elitisisme sastra yang juga sedang merebak di beberapa kota-kota lain di Indonesia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%; font-size:100%;" &gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;            Tiga kegiatan sastra yang diungkapkan Otto sebagai kemungkinan baru dalam memberikan suluh sastra di Yogya barangkali memang benar. Seperti disebutkannya; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Pertama&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;, forum malam sastra oleh Keluarga Besar Teater Eska (KBTE) Indonesia. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Kedua&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;, kreasi Sigit Sugito cs, “100 Penyair Membaca Yogya”, Jum’at (7/1) di Kilometer Nol (depan Gedung Agung Yogya). Dan &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Ketiga&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;, “Bincang-Bincang Sastra” yang dikomandoi Hari Leo AER, tiap bulannya di Ruang Seminar Taman Budaya Yogyakarta. Medan sastra yang dilahirkan oleh ‘Bincang-Bincang Sastra” di Taman Budaya tentu berbeda sekali dalam memberikan pengaruh masifitas sastra daripada forum malam sastra (KBTE), lebih-lebih ‘100 Penyair Membaca Yogya’ Sigit Sugito cs. Hal ini dilihat dari konsistensi dan seberapa besar ia (forum sastra) memberikan peluang dalam menemukan benih-benih baru sastra tanpa terus saja mengibarkan nama-nama lawas yang nota-bene sudah dianggap mapan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%; font-size:100%;" &gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;            Saya adalah pribadi yang pesimistis jika kebangkitan sastra di Yogya, hanya diparameteri dengan bentuk kegiatan semacam itu. Yogyakarta sebagai kota yang dipercaya sebagai medan kreatif banyak seniman akan semakin pupus jika para pegiat seni hanya terjebak dalam kurung-kurung elitisisme sastra dengan bentuk ceremonial sementara. Kita mestinya dapat membaca apa yang menjadikan Yogyakarta berbeda dalam hal memenangkan gerakan kesenian di Indonesia. Perlu adanya semacam egaliterisme antar seniman (sastrawan) Yogya untuk mewujudkan demokrasi tumbuh kembangnya sastra di kota budaya ini. Semacam sikap keterbukaan dari kalangan sastrawan tua untuk senantiasa menyambut golongan muda di dalam kesusastraan, yang dalam bahasa Otto mungkin kompromitas (meski kurang tepat). Sebab senioritas di dalam realitas sosial gerakan sastra hanya akan memutus mata rantai yang sejak lama dibangun. Hal ini berkenaan dengan bagaimana atmosfir sejarah sastra Yogya dapat ditransformasikan dalam bentuknya yang kini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%; font-size:100%;" &gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Sastra yang belakangan terkooptasi dalam bentuk persinggungan antar komunitas memiliki tantangannya sendiri dengan dinamikanya yang berbeda. Di sisi mula, merebaknya komunitas sastra barangkali memberikan sebuah ruang gesekan (proses) dalam kreasi dan sosial kesenian. Namun di sisi lain, ia memberikan sentiment kepentingan antar komunitas yang bila dimaknai dengan tidak sehat justru akan menciptakan diskomunikasi sastra. Dan gerakan sastra akhirnya hanya akan menjadi hal sempit persaingan antar komunitas. Yang dalam proses selanjutnya akan mematikan pribadi sebagai titik mula kebangkitan penciptaan dan tindakan. Sebab sastra bukan hanya seni berkata-kata dengan berkonvoi ria, lebih dari pada itu ia merupakan sebuah sikap dari kondisi realitas tertentu. Di mana suara personal diletupkan ke dalam kenyataan sosial yang menerima kode bahasa.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%; font-size:100%;" &gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style=" ;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Mari kita berkaca kepada realitas kepentingan kelompok di dalam kenyataan sastra mutakhir kita. Di mana antar komunitas saling memperebutkan jabatan elit kesastraan dengan begitu sempit tanpa memperhitungkan bahwa begitu banyak persoalan di luar sastra &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;an sich&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; yang memerlukan perhatian para seniman dan sastrawan. Lantas apakah demikian penting, sebuah kejayaan sastra tanpa ada pembangunan di tingkatan bawah masyarakat atas persoalan-persoalan riil mereka? Apakah demikian penting arti penciptaan bahasa tanpa kesadaran bahwa sastrawan berkomunitas justru semestinya untuk menciptakan kesatu-paduan dalam melakukan proyeksi dan tindakan konstruktif sosial-politik kita.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%; font-size:100%;" &gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style=" ;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style=" ;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Jakarta misalnya, menjadi salah satu contoh di mana dinamika hubungan antar komunitas sastra menjadi begitu penting untuk dicari bangun komunikasinya. Bukan sebuah rahasia umum lagi bahwa betapa sastra kita kali ini sarat nuansa politis antar kepentingan kelompok semata. Hal semacam ini, semoga tidak terjadi di Yogyakarta. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Toh&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; seandainya mesti terjadi, bukan dalam hal bagaimana memenangkan satu kelompok dari kelompok yang lain (semacam partai politik saja), tetapi mencari rumusan (yang tentu saja butuh proses) dalam memberikan gerakan yang lebih ampuh memasyarakatkan sastra ke khalayak dan menghidupkannya di tengah-tengah masyarakat kita.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%; font-size:100%;" &gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style=" ;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style=" ;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Yogya mestinya tidak hanya menjadi barometer atau-pun ibu kota dari sastra, tetapi menjadi sebuah gerakan progressif kaum seniman (sastrawan) untuk mengembalikan gerakan sastra kepada fungsinya; sebagai sebuah sikap sosial yang mendamba demokratisasi dalam segala bidang, yang memberikan universalitas humanistik atas konsepsi dan kebijakan yang masih timpang di Negara kita. Untuk cita-cita yang demikian, kita memerlukan sebuah gerakan dan konsepsi riil dalam menghadapi realitas dan konteks yang telah berkembang sedemikian rupa (agar tidak hanya menjadi harapan-harapan utopis yang naïf). Dibutuhkan sikap eklektisitas (saling keterbukaan), komunikasi antar pelaku sejarah gerakan sastra dari segala periode, serta kesebangunan visi yang memberikan spirit bagi pelaku sastra di Yogyakarta, agar sastra tidak terjatuh pada bentuk elitisisme dan perayaan semata, semacam ‘Pasar Malam’ yang meriah di waktu tertentu saja.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%; font-size:100%;" &gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style=" ;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style=" ;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Di tengah-tengah peperangan kebudayaan yang semakin dirasuki modernitas dan globalisasi kapitalistik. Di antara semakin santernya pertumbuhan partai-politik. Sementara di sisi lain, masyarakat semakin disibukkan dengan godaan-godaan demokratisasi media. Sastra memiliki tantangannya yang cukup rumit untuk berdiri mendampingi terbentuknya kebudayaan adiluhung dan bebasnya hak-hak kemanusiaan.  Kegiatan-kegiatan ceremonial seperti direfrensikan Otto Sukatno CR barangkali penting sebagai stimulus dari cita-cita luhur sastra, namun mengimpikannya sebagai fajar baru kebangkitan sastra tentu tidak hanya selesai sampai di situ.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%; font-size:100%;" &gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style=" ;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style=" ;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Sastrawan mesti lebih memiliki kemandirian sebagai pribadi, justru agar ia bisa keluar dari segala bendera serta kandangnya untuk merangkul persoalan masyarakat lengkap dengan segala konsekuensinya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%; font-size:100%;" &gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style=" ;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style=" ;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Keterangan:&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%; font-size:100%;" &gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style=" ;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style=" ;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: normal; "&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;1. Dimuat di Minggu Pagi, 1 Februari 2011&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%; font-size:100%;" &gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style=" ;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style=" ;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: normal; "&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: normal; "&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;2. Gambar: &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style=" line-height: normal; "&gt;&lt;a href="http://www.flickr.com/photos/7916173@N08/2266281926"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;http://www.flickr.com/photos/7916173@N08/2266281926&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4972090938292103728-9155001702356057757?l=kekalkumatiku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kekalkumatiku.blogspot.com/feeds/9155001702356057757/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4972090938292103728&amp;postID=9155001702356057757' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4972090938292103728/posts/default/9155001702356057757'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4972090938292103728/posts/default/9155001702356057757'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kekalkumatiku.blogspot.com/2011/03/sastra-yogya-antara-pesimisme-dan-cita.html' title='SASTRA YOGYA: Antara Pesimisme dan Cita-CIta Utopis'/><author><name>ahmadkekalhamdani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04993144587058559417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_Q-VWtJ0Gmno/TSZxPkTq6DI/AAAAAAAAAM8/Ed1HG9mHb38/S220/potret%2Bdiri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4972090938292103728.post-7997482583216206012</id><published>2011-01-06T18:31:00.000-08:00</published><updated>2011-08-27T07:45:58.801-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sastra'/><title type='text'>SUARA DARI BUKIT</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-UJ8c9mV8inE/TXHVHehuJUI/AAAAAAAAARc/rjZiATqpp7I/s1600/sumenep.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-UJ8c9mV8inE/TXHVHehuJUI/AAAAAAAAARc/rjZiATqpp7I/s400/sumenep.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5580475737719055682" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="mso-margin-top-alt:auto;mso-margin-bottom-alt:auto; text-align:justify;mso-line-height-alt:11.9pt"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style=" font-family:&amp;quot;Garamond&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-Times New Roman&amp;quot;; mso-bidi-Times New Roman&amp;quot;font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Dalam sebuah perjalanan menemu seorang kawan penyair di sebuah kota kecil di ujung timur pulau Madura, Sumenep tepatnya. Saya bayangkan diri saya sebagai seorang Gao Xing Jian (meski tentu tidak sebegitunya), sedang menulis sebuah perjalanan ke sebuah gunung, tempat saya bertanya-tanya; apa sajakah yang dapat saya saksikan dari ketinggian yang begini?, adakah mata air di sini seperti dilegendakan sebagai tempat air surga mengalir bocor ke bumi? Saya tahu, dan tiba-tiba semacam mesti menulis tentang suara-suara yang lamat saya dengar mendengung sebalik bukit. Ada yang menebar gema di puncak bukit itu, seperti segerombolan orang-orang dari masa lampau, yang tak tampak tubuhnya dari lembah dan jendela bus ini. Tapi saya yakin, ada sesuatu itu yang bernama masa lalu, yang barangkali tak tercatat dan terlahir hanya untuk kebersiaan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;" align="right"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'times new roman';"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="mso-margin-top-alt:auto;mso-margin-bottom-alt:auto; text-align:justify;mso-line-height-alt:11.9pt"&gt;&lt;span style=" font-family:&amp;quot;Garamond&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-Times New Roman&amp;quot;; mso-bidi-Times New Roman&amp;quot;font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Bus terus melaju membelah jarak, mengabaikan peristiwa yang dilaluinya seperti rekam video yang dipercepat, dan sesekali tampak melintas para pedagang di pasar-pasar tradisional di sepanjang jalan, bau ikan dijemur, dan merbak asin laut yang sampai ke batin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="mso-margin-top-alt:auto;margin-bottom:0cm;margin-bottom: .0001pt;text-align:justify;line-height:normal"&gt;&lt;span style=" font-family:&amp;quot;Garamond&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-Times New Roman&amp;quot;; mso-bidi-Times New Roman&amp;quot;font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Bus terus melaju melewati setapak lembah-lembah dengan julangan pohon siwalan yang sedikit daun. Sementara di sisi kiri, bentangan laut terhampar, biru yang bersulih putih dengan langit. Laut yang menyimpan segala kegelisahan sejarah, tempat tualang para nelayan dengan burung-burung camar yang sesekali hinggap di pucuk layar. Di dalam hati kecil, saya amat bersyukur dikutuk mencintai pulau ini. Tiba-tiba saya merasa mengerti, mengapa di julangan bukit dan semurup laut ini begitu banyak penyair terlahir, di sini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="mso-margin-top-alt:auto;margin-bottom:0cm;margin-bottom: .0001pt;text-align:justify;line-height:normal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=" font-family:&amp;quot;Garamond&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-Times New Roman&amp;quot;; mso-bidi-Times New Roman&amp;quot;font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=" font-family:&amp;quot;Garamond&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-Times New Roman&amp;quot;; mso-bidi-Times New Roman&amp;quot;font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;nAnoom, &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;Garamond&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-Times New Roman&amp;quot;;mso-bidi-Times New Roman&amp;quot;font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;mampirlah ke tanah ini, kau akan tahu bahwa kota yang selama ini suka menyamar menjadi seorang lelaki yang pulang di rembang petang dan dengan bahasa yang merunduk ia selalu berkata: &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;jangan pernah lagi meninggalkan kampung halaman, kepergian yang dikutuk, seperti malin kundang, yang takjub pada ibunya lalu jadi batu! &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Dan di tanah ini kita saling bertanya, mana yang lebih lampau daripada rindu dan cemas kehilanganmu? Betapa sakit rasa ingin memiliki itu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;Garamond&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-Times New Roman&amp;quot;;mso-bidi-Times New Roman&amp;quot;font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="mso-margin-top-alt:auto;margin-bottom:0cm;margin-bottom: .0001pt;text-align:justify;line-height:normal"&gt;&lt;span style=" font-family:&amp;quot;Garamond&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-Times New Roman&amp;quot;; mso-bidi-Times New Roman&amp;quot;font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Namun apa yang paling menarik dari sebuah perjalanan adalah kesan dan seorang kawan baru tepatnya. Telah lima tahun ini saya mempunyai kebiasaan buruk suka kelayapan ke kota-kota kecil di negeri ini, mencari sisi asing yang selalu saja tampak baru setiap saya menginjakkan kaki dan mencium bau tubuh tanah di tempat saya singgah, bertemu beberapa kawan penyair dan seniman, memecah udara dengan obrolan-obrolan di pinggir jalan, membeli es cendol lalu ngobrol soal kesenian sambil mengutuki bangsa ini yang bagi salah seorang kawan, selalu tampak mempunyai selera estetika yang buruk. Pergi ke alun-alun, nongkrong di terminal, bermalam di sanggar, dan &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;aih&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;, bertemu seorang gadis yang selalu seperti menyimpan laut di gelak tawanya, dan suka menyimpan rembulan di balik dadanya (tuhan benar-benar indah dalam hal ini). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="mso-margin-top-alt:auto;margin-bottom:0cm;margin-bottom: .0001pt;text-align:justify;line-height:normal"&gt;&lt;span style=" font-family:&amp;quot;Garamond&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-Times New Roman&amp;quot;; mso-bidi-Times New Roman&amp;quot;font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Tanah ini, benar-benar tak perlu memiliki bahasa untuk sampai ke jantung saya, semenjak awal ia membenamkan diri, seperti nyinyir seruling yang lesat dan bergesekan di gemetar daun pada jantung dan lubuk saya yang sibuk.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="mso-margin-top-alt:auto;margin-bottom:0cm;margin-bottom: .0001pt;text-align:justify;line-height:normal"&gt;&lt;span style=" font-family:&amp;quot;Garamond&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-Times New Roman&amp;quot;; mso-bidi-Times New Roman&amp;quot;font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Untuk itulah saya merasa perlu mencatat apapun yang saya rasakan, apa saja yang barangkali dapat melintas begitu saja. Meski hanya untuk sekedar tulisan belaka. Tapi saya yakin catatan ini akan menjadi catatan alternatif ketika tuhan barangkali hendak menghakimi saya dengan kenakalan-kenakalan yang saya perbuat padanya. Kau tahu, nakal terhadap tuhan itu seperti rasa manja berlebih seorang anak kepada bapaknya, bukan? Iya, tuhan suka bermain-main dalam hidup ini, dan saya tentu tidak akan menyia-nyiakan permainan ini dan akan meminta mainan yang paling menarik yang bisa diberi tuhan kepada saya: puisi dan sebuah ladang yang menadah purnama!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="mso-margin-top-alt:auto;margin-bottom:0cm;margin-bottom: .0001pt;text-align:justify;line-height:normal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=" font-family:&amp;quot;Garamond&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-Times New Roman&amp;quot;; mso-bidi-Times New Roman&amp;quot;font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Sumenep-Yogyakarta, Desember 2010&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;Garamond&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;mso-bidi-Times New Roman&amp;quot;font-family:&amp;quot;;font-size:12.0pt;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4972090938292103728-7997482583216206012?l=kekalkumatiku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kekalkumatiku.blogspot.com/feeds/7997482583216206012/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4972090938292103728&amp;postID=7997482583216206012' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4972090938292103728/posts/default/7997482583216206012'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4972090938292103728/posts/default/7997482583216206012'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kekalkumatiku.blogspot.com/2011/01/tentang-sajak-sajak-ahmad-kekal-hamdani.html' title='SUARA DARI BUKIT'/><author><name>ahmadkekalhamdani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04993144587058559417</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_Q-VWtJ0Gmno/TSZxPkTq6DI/AAAAAAAAAM8/Ed1HG9mHb38/S220/potret%2Bdiri.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-UJ8c9mV8inE/TXHVHehuJUI/AAAAAAAAARc/rjZiATqpp7I/s72-c/sumenep.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
